Antara Kemistisan dan Keindahanya, Layakah Curug Silangit Carbalung Sidoagung di Promosikan ?

Curug Silangit. Foto : Ade Damplonx
Sepertinya warga Sidoagung Sruweng Kebumen wajib baca nih tentang potensi pariwisata yang ada di Desa tercinta kita ini, yang lokasi tepatnya di Dusun Pacalbalung. Yaitu tentang keberadaan wisata berupa air terjun atau yang kita kenal dengan nama Curug Silangit. 

Dulu saat saya masih kecil, tiap bulan Curug Silangit ini mampu mengundang ratusan pengunjung tiap bulanya. Bahkan sampai ada beberapa tetangga yang mendirikan warung dekat lokasi wisata berada. Dari banyaknya pengunjung yang datang, warga mendapat keuntungan dari jasa penitipan sepeda atau motor, juga dari dagangan yang di jual kepada para pengunjung. Dan itu berlangsung sekitar 5 tahunan. Cukup lumayan lah menyumbang ekonomi warga. Bukan hanya di hari libur saja, tapi di hari hari biasa pun pengunjung cukup ramai. 

Yang paling di benci warga sekitar adalah karena perilaku pengunjung yang sering berbuat hal tidak terpuji. Terutama mereka para anak anak muda, tempat ini di jadikan ajang bebas untuk pacaran, tanpa memperdulikan bahwa keduanya pasangan yang sah atau belum. 

Ada kejadian tragis setelah tenarnya Curug Silangit ini, yaitu tenggelamnya seorang pemuda dari desa tetangga. Jadi, pemuda asal Desa Karangggedang ini datang pagi buta bersama teman temanya sekitar jam 5 pagi. Saat itu sedang musim hujan dan debit air sedang deras derasnya. Air terjun Silangit pun begitu besarnya. Ombaknya deras seperti laut. Bahkan untuk berenang pun rada susah. Angin yang di timbulkan dari hempasan jatuhnya air terjun pun begitu besar sampai jarak berpuluh puluh meter. Sedangkan kedalamanya sekitar 3 meter. 

Tragedi tenggelamnya korban bukan alami karena kecelakaan, melainkan ada campur tangan bangsa gaib yang menarik korban. Karena korban sudah di tarik 4 orang, namun ternyata tak kuat melawan tenaga makhlus halus tersebut. Akhirnya, korban pun tenggelam dan tak bisa di selamatkan. 

Setelah peristiwa tersebut, lokasi wisata menjadi sepi dan tak ada yang berani datang. Waktu itu belum ada facebook karena Mark Zuckerberg belum di lahirkan. Apalagi smartphone. 

Ada kejadian aneh setelah setelah korban tenggelam di Curug Silangit. Jadi, beberapa orang menyaksikan sekumpulan bongkahan api, atau kalau orang menyebutnya dengan kemamang, yang sepertinya sedang mengadakan pesta karena telah berhasil mendapatkan korban. Mereka semua berpesta dengan tabuhan, atau kalau biasa anak anak lakukan di kali yaitu kunclungan. Bukan hanya di Curug Silangit saja, tapi di beberapa kali besar (kedung) dari mulai Curug Silangit sampai kali mendekati desa. Ngeri sekali pokonya. Itu terjadi sekitar tahun 2000 an dulu. 

Dari tahun tahun ke tahun, Curug Silangit sepi, generasi pun berganti. Generasi baru ini tentunya banyak yang tidak tahu jika dulu tempat ini pernah memakan korban, sehingga mereka bisa dengan asiknya berkunjung dan mandi sesuka hati. Sampai akhirnya di tahun 2016 kemarin, Curug Silangit ini kembali memakan korban. Korbanya yaitu anak laki laki umur 18 tahun asal Kewayuhan Kebumen. Dulu juga laki laki anak usia SMP, asal Karanggedang.

Jadi pas saat itu tiba tiba hujan deras, dan kali pun banjir namun tidak besar. Anehnya walaupun banjir, banyak sekali orang yang datang berkunjung. Hujan pula saat itu. Tapi mengapa orang orang tidak takut ? Waktu itu, pemuda pemuda setempat mengadakan kerja bakti memperbaiki jalan seadanya menuju lokasi wisata. Dan ini seperti di skenario, seperti ada pertanda bahwa nanti akan terjadi sesuatu. Dan benar saja, saat sedang ramai ramaianya, tiba tiba ada orang berteriak teriak bahwa Curug Silangit telah memakan korban lagi. Korban tersebut tadinya tadi akan berfoto di bawah air terjun namun terpeleset dan jatuh. Dan karena arus yang deras, dan juga korban tak bisa berenang, korban pun tenggelam. Suasana pun ramai dan polisi pun datang mengantarkan jenazah ke rumah duka. 

Curug Silangit memang indah. Sebelum menuju ke lokasi, kita harus berjalan menyusuri jalan setapak sepanjang kurang lebih 3 km melewati kali. Di sepanjang perjalanan kita juga akan banyak menikmati pemandangan kali dengan bongkahan batu batu besar. 

Di spot pertama, kita akan menjumpai kali yang orang setempat menyebutnya kali latihan. Berjalan beberapa meter setelahnya, kita akan menemui kali Silumpang. Di namakan kali Silumpang karena mungkin bentuknya seperti lumpang (sejenis alat untuk menumbuk). 

Ada rumor juga tentang kali Silumpang ini. Dulu pernah ada seorang perempuan dari desa atas (Larangan) yang sedang mencuci baju di tempat tersebut sambil membawa kedua anaknya. Anaknya yang sudah balita menemaninya sambil bermain main air di sampingnya, sementara anaknya yang masih bayi di ayun di sebuah jarik yang di ikatkan pada sebuah pohon. 

Namun sang Ibu kalang kabut saat mendapati anaknya hilang. Kemudian Ibu pun bertanya kepada anaknya yang satunya lagi. 

“Adik kemana ?” kata Sang Ibu.

“Tadi ada kadal panjang membawa Adik masuk ke kali Bu” jawab anak tersebut.

Dan ternyata yang di maksud kadal adalah seekor ular besar yang membawa anak tersebut ke dalam air.
Namun, itu hanya rumor atau desas desus yang belum jelas kebeneranya. Karena banyak orang bilang seperti itu. 

Pernah juga ada seorang tetangga yang kebetulan lewat kali tersebut malam hari sehabis pulang dari desa Larangan. Jadi seorang tetangga tersebut melihat ikan gabus yang besarnya sepanjang kedung Silumpang dengan mata menyala. Saking kagetnya, ia pun lari tunggang langgang sampai menabrak pohon kelapa. Secara kan gelap, jadi apapun ditrabas, malu bertanya, jalan terusss sampai nabrak pohon, wkwkwkkwk kasian. 

Berlanjut dari Kali Silumpang, berjalan sekitar 500 meter setelahnya, kita akan tiba di Curug Silangit. Sepanjang dari Kali Silumpang ke Curug Silangit, kita akan menjumpai bongkahan bongkahan batu besar. Air yang mengalir pun jernih dan bersih. Secara warga desa atas (kembang abang), sudah mulai cerdas soal MCK karena hampir setiap warganya sudah memilik fasilitas tersebut. 

Sepanjang perjalanan, kita bisa berfoto foto karena banyak spot spot menarik yang instagramable. Lokasi paling cocok yaitu di Dubang, aliasnya watu abang. Curug Silangit memang menawan, tapi menyimpan cerita mistis dan telah memakan korban hingga 2 orang. 

Tapi jika banyak orang, dan memang banyak orang berkata seperti ini “tempat wisata pada umumnya memakan korban, contohnya laut. Namun tetap saja di datangi”. Apa tanggapan kalian ? Dan jika hal itu di katakan umum, relakah- tega- kah kalian hal itu terjadi lagi. Walaupun hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan (tentunya dengan lantaran manusia itu sendiri).

Bulan Agustus kemarin, saya berkunjung ke beberapa tempat wisata yang ada di Kota Pekalongan atas undangan dari Dinpar Pekalongan dalam rangka promosi wisata kota tersebut. Dan tempat wisata yang ternyata harus saya promosikan yaitu air terjun bernama Curug Bajing yang ketinggianya mencapai 60 meter. 

Jadi, kami yang berjumlah sekitar 80 orang dari berbagai kota Indonesia dan dari 4 kategori, yaitu penulis (blogger), jurnalis, fotografer dan video drone, di tugaskan untuk mempromosika wisata kota Pekalongan sesuai kategorinya masing masing. 

Untuk penulis dan jurnalis cara promosinya melalui sebuah artikel. Bedanya jika untuk penulis blog boleh dengan gaya popular, sementara untuk jurnalis atau wartawan harus dengan riset lapangan yang mendalam, serta hasil yang akurat. 

Sementara untuk fotografer, yaitu dengan kreasi fotonya. Dan ternyata hasil jepretan seorang fotografer itu sangat menarik, berbeda dengan jepretan biasa melalui sebuah smartphone, apalagi yang melakukanya seorang yang awam. 

Sedangkan untuk droner atau pilot pengendali pesawat drone, mereka menggunakan drone (pesawat tanpa awak) yang sudah di lengkapi kamera canggih dan dapat berputar putar. Drone yang bagus harganya sampai puluhan juta. Promosi lewat video cloud  ini sedang popular populernya karena menyajikan gambar yang berbeda, yang hanya bisa di lakukan oleh sebuah pesawat. Dan pastinya akan menyajikan estetika atau keindahan tersendiri karena di ambil dari angel atau sudut yang berbeda. Dan hasilnya pun cukup menakjubkan.

Dan ternyata, Curug Bajing yang saya kunjungi tersebut baru di buka 2014 lalu setelah lama berstatus sebagai surga tersembunyi. Dampak posifif yang di rasakan warganya tidak lain yaitu meningkatnya taraf hidup warga sekitar curug itu sendiri. Setiap minggu banyak pengunjung yang datang untuk berwisata. Banyak warung warung berjejer di area wisata tersebut. Bahkan penginapan pun sudah di sediakan. 

Di situ, saya juga sempat bertanya tanya ke salah seorang penduduk sekitar soal kemistisan dari curug tersebut. Bahwa dulunya curug tersebut merupakan petilasan karena pernah di jadikan tempat orang sakti untuk bertapa atau ritual suci. Jadi saat berada di lokasi, kita dilarang untuk berkata kata tidak terpuji apalagi melakukan perbuatan terlarang. Dan jika  itu sampai di langgar, nasib buruk pun akan menimpa pelakunya. Dan ternyata bukan hanya 1 destinasi wisata saja, tapi ada beberapa destinasi yang ternyata baru di buka di resmikan oleh pemerintah. 

Untuk soal kemistisan dan keselematan, sebaiknya yang kita lakukan itu harus selalu berhati hati, baik dengan ucapan atau perbuatan diamanapun kita berada dan dalam kondisi apapun. 

Pertanyaanya adalah, karena kemistisanya, layak-kah ? Patut-kah ? Curug Silangit di promosikan ke khalayak publik sampai bisa di kelola oleh pemerintah  ? Atau mungkin ada pariwisata tersembunyi yang ternyata potensif seperti Bukit Langitnya Giri Purno ?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Antara Kemistisan dan Keindahanya, Layakah Curug Silangit Carbalung Sidoagung di Promosikan ?"

Posting Komentar